Dunia Informasi & Inspirasi

Sharing Infomasi Seputar Dunia Informasi & Inspirasi

Kisah Romantis: Cinta Telah Merampasnya Dariku

Oleh Kang Deri - Cinta telah merampasnya dariku. Lelaki itu, yang telah berhasil memikat hatiku. Sehati-hati apa pun aku. Sekuat apa pun aku melawan, mencoba berpikir logis, namun pesonanya terlalu digdaya. Dia lelaki yang nyaris sempurna di mataku.

Mestinya sedari awal aku sadar diri. Dia terlalu langit untuk aku yang bumi, untuk aku yang ngarai, aku yang jurang penuh belukar, aku yang rawa sarat lumpur hitam. Sedangkan dia … penuh sinar benderang, ditaburi bintang-gemintang, sejuk serupa rembulan, silau seumpama mentari, namun teduh dinaungi gemawan.


“Harusnya Mbak lebih bersabar, jangan buru-buru. Lihat akibat perbuatan Mbak. Mbak menyerahkan hati pada lelaki yang tak pantas,” katanya malam itu, saat aku mengeluh tentang kekasihku yang kurang baik tabiatnya.

“Tapi, aku ini wanita. Dan, ingat berapa usiaku! Aku takut tak kebagian jodoh,” jawabku. Bisa saja ia berkata seperti itu, pasalnya belum pernah merasakan bagaimana menjadi seorang perempuan lajang berusia 33 tahun.

Dia tersenyum penuh kharisma. Kebijaksanaan tersirat di wajahnya. Meskipun ia beberapa tahun lebih muda dariku, namun aku belajar banyak hal darinya. Wawasan yang samudra membuat ia amat dewasa.

“Lalu, dengan buru-buru semacam itu, apa yang Mbak dapatkan? Nyamankah menjalani hubungan bersamanya?”

Aku menggelengkan kepala tanpa mampu berkata. Justru aku lebih nyaman bersamamu, Ihsan, ujarku, sayang hanya di dalam hati. Tak mampu aku mengungkapkannya, tak pernah mampu. Aku terlalu rikuh. Terlalu gengsi. Ini mempertaruhkan harga diri. Bayangkan, seorang perempuan mengungkapkan perasaan kepada lelaki—apalagi yang lebih muda—jelas merupakan sebuah aib. Lebih-lebih kalau sampai ditampik. Mau ditaruh di mana mukaku ini? Lebih jauhnya, muka keluarga besar Raden Satria Surapraja, ayahku yang sohor itu.

“Sejauh apa Mbak percaya Tuhan? Bahwa ia selalu membalas kesabaran dengan sesuatu yang sangat baik, yang bahkan tidak pernah Mbak sangka dan pikirkan sebelumnya,” imbuhnya.

Aku semakin merasa bersalah pada diriku sendiri, pada Tuhan, dan pada masa-masa yang akan kujelang. Betapa naifnya aku telah membiarkan gagal menjadi pribadi luar biasa. Bukankah sabar adalah perbuatan berat dan luar biasa, yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang luar biasa?

Saran-saran Ihsan memang selalu masuk akal, selalu sejalan dengan nurani, selalu mengagumkan, dan selalu kusuka. Kecerdasannya bukan sekadar kognitif, tetapi merupakan kombinasi tanpa cela antara tiga hal, yakni: kognitif, apektif, serta psikomotorik. Perpaduan yang sangat sempurna antara kecerdasan akal dan budi. Semua itu membuat ia mengerti bagaimana cara berlaku serta memperlakukan semua orang. Dan lagi, paras menarik yang dititipkan Tuhan padanya semakin memperkuat pesonanya. Tak heran jika banyak lawan jenis yang menyukainya, tak terkecuali aku. Sungguh, bagiku ia luar biasa. Tetapi, tampaknya aku begitu biasa baginya, sebagaimana teman lawan jenis lainnya.

Sering aku memberikan isyarat bahwa aku menyukai dan ingin jadi kekasihnya. Tapi, tampaknya ia tak mengerti. Atau mungkin sebenarnya ia mengerti, hanya saja tak peduli. Menurutku, ia terlalu pintar untuk tak paham isyaratku. Biasanya ia hanya tersenyum menanggapi isyarat-isyaratku. Senyum ringan, yang mengesankan bahwa ia menganggapku sedang bercanda.

“Kalau saja kita seumuran, Mbak pasti sudah menikahimu,” ungkapku.

“Ha-ha-ha, seandainya kita seumuran, sebaiknya Mbak mencari lelaki yang jauh lebih baik dariku. Ketimbang baik, aku jauh lebih banyak buruknya,” jawabnya sambil tertawa.

Jengkel sebenarnya, ucapanku yang serius dianggap sebuah gurauan. Tapi, aku bisa apa? Lagi pula, ini hanya semacam memancing riak. Aku ingin tahu seperti apa reaksinya jika aku berkata demikian. Dan, hampir seperti dugaanku.

Akan tetapi, setelah malam itu, aku kehilangan komunikasi dengannya. Nomor ponselnya tidak pernah aktif, demikian juga akun-akun jejaring sosialnya. Ia seperti hilang diculik makhluk asing, atau seperti tersesat di lautan entah, mungkin Segitiga Bermuda yang selalu berkabut dan misterius itu. Ia tak pernah memberi kabar, apalagi menemuiku. Tentu saja aku sangat kehilangannya. Aku sangat sadar—walaupun tak pernah mengungkapkannya—bahwa ia telah bersemayam dalam hatiku. Maka, setelah ia pergi, aku merasa ganjil. Seperti ada bagian yang lesap dari diriku.

Enam bulan telah berlalu sejak ia pergi. Aku masih demikian saja, bermimpi dan berharap hal yang sama: ingin ia kembali dan jadi milikku. Malam-malamku menjadi lorong gelap, panjang, lembap, dingin, sepi, lagi berduri. Adapun siangku menjadi hari yang amat terik, menyiksa, dan menakutkan. Singkatnya, segenap waktuku tandas dalam penderitaan.

Entah sudah berapa banyak doa bercampur air mata yang aku panjatkan kepada Sang Empu kehidupan. Berharap ia kembali padaku, kembali mengajariku banyak hal, kembali membagi kebijaksanaan, dan yang paling penting: kembali memberiku kebahagiaan serta kenyamanan.

Dan, akhirnya Tuhan mendengar doa-doaku. Rupanya benar bahwa Tuhan Zat Yang Maha Mendengar. Di suatu sore, seseorang mengetuk pintu rumahku. Aku yang sedang menonton televisi tanpa minat—hanya sekadar mengusir kebosanan—bangkit dan menghampiri pintu. Kubuka daun pintu dengan setengah gairah. Dan, betapa aku terkejut saat mendapati wajah teduh itu hadir tepat di hadapanku, tersenyum seindah langit musim semi. Saking tak percaya dengan apa yang kulihat, aku hampir menyangka sedang bermimpi.

“Ih-Ihsan,” sapaku kaku.

“Mbak Indri,” jawabnya luwes sebagaimana biasa, dengan senyuman yang masih merekah.

“Kamu ke mana saja? Ayo masuk.”

“He-he, lain kali saja, Mbak. Hari ini aku sedang buru-buru, cuma mau memberikan sesuatu.” Ia merogoh tas cangklong yang tersandang di pundaknya.

“Wah, baru saja bertemu sudah mau memberi sesuatu. Kamu ini memang lelaki penuh kejutan.”

“He-he. Ini, Mbak.” Ia menyodorkan selembar kartu jingga memuat tulisan bertinta emas.

Aku menerimanya dan sekilas membacanya. Dan, aku tercekat saat mengetahui bahwa yang ia berikan adalah kartu undangan pernikahan. Dan yang lebih mengejutkanku adalah: yang tertulis di sana adalah namanya bersama seorang perempuan.

“Datang, ya, Mbak,” ujarnya.

Aku terperangah seperti orang yang tiba-tiba diterjang gelombang di lautan tenang. Entah berapa jenak aku termangu. Waktu terasa berhenti, tersendat oleh kejadian pilu yang menamparku. Inikah akhir penantianku? Dan harus beginikah nasib perasaanku?

Ihsan memohon diri. Sementara itu, aku masih termangu. Dan setelah ia hilang dari pandangan bersama sepeda motornya, air mataku berderai.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Kisah Romantis: Cinta Telah Merampasnya Dariku

0 komentar:

Poskan Komentar