Dunia Informasi & Inspirasi

Sharing Infomasi Seputar Dunia Informasi & Inspirasi

Cerpen Terbaru: Arisan jombloan

Oleh Nicky Bernett - Cukup. Sekalipun dipaksa menurut, Kinan tidak akan pernah mau pergi melihat penyembelihan hewan kurban di lapangan desa. Melihat bulu-bulu hewan berkaki empat itu geli rasanya. Kotoran, aroma khas, dan satu lagi darah. Menjijikan, sugestinya, jika ada hal bermanfaat lain yang diamanahkan, tentu pilihan kedua, sungguh sangat diiyakan.

"Bapak gak bisa, Nduk. Berjalan dua meter saja sudah gemetaran seperti ini. Bagaimana mau ikut membantu di sana." Menarik kursi plastik yang ada di teras depan. Membujuk sang putri tunggal.

"Bapak tahu sendiri kalau Kinan gak suka terjun ke wilayah yang ada hewannya," sanggahnya, terduduk di lantai lalu memakai kaos kaki.

"Kalau Bapak punya anak laki-laki, ya, sudah Bapak suruh sejak tadi," bela lelaki tua lima puluh tahunan itu.

Kinan menggerutu dalam hati. Dia perempuan, mana bisa pegang potongan-potongan daging kemerah-merahan dengan tenang. Yang ada mual serta gak tega.

"Putra akan membantu. Dia jadi panitia pembagian tahun ini. Yang penting kamu datang," bujuk Bapak.

Putra. Nama itu lagi, batinnya.

"Kenapa?" Tanya Bapak.

"Aku malu, Pak. Ketemu sama Mas Putra," lirih Kinan.

"Yang berlalu biarlah," tegas pak Mukidi, ayah Kinan.

"Masalahnya aku terus dikatain sama anak-anak masjid." Kinan berdiri, merapikan jiblab sebentar dengan pantulan dirinya di kaca jendela.

"Dia jomblowan dan kamu jomblowati, ya memang sudah klop pemenang dan hadiahnya." Lelaki beruban itu tertawa. Mengamini dalam hati permainan jodoh-jodohan anak-anak desa.

Kinan cemberut. Berjalan menuju tempat penyembelihan dengan muka memerah.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Cerpen Terbaru: Arisan jombloan

0 komentar:

Poskan Komentar