Dunia Informasi & Inspirasi

Sharing Infomasi Seputar Dunia Informasi & Inspirasi

Kisah Seorang Paman yang Sederhana (Sebuah Cerpen}

Oleh Khairil - Tidak berlebihan dalam berkata, senyum tipis tapi menarik, tanda ia seorang yang selalu menjaga tata krama.
Jangankan berteriak, tertawa lebar juga tak pernah. Dia adalah pamanku, sebut saja Sobar. Kala itu, dia belum menikah.
Kekagumanku bertambah karena dia cukup lama menuntut ilmu di Pondok Pesantren. Pakaiannya sederhana tapi begitu rapi, disaat langkahnya menuju Masjid. Putih dan biru, sarung yang sering ia kenakan, itu adalah warna kesukaannya.

Pertama aku datang, hanya senyum tipis ia lempar untukku. Ia menjemputku di Pelabuhan, pada saat itu, aku berencana bersekolah disana, tinggal di tempat nenek beserta pamanku. Karena pulau yang amat jauh, kami jarang bertemu.


"Kamu lapar?" tanyanya singkat. Dan akupun mengangguk.
Kamipun bergegas mencari kedai sederhana di sekitar Pelabuhan.
"Aku kira tadi paman tukang todong! Kumulai buka mulut, aku sudah melupakan wajah paman." tanyaku, tapi tidak baginya.
"Heeeem, ya kan karena sudah lama banget tak ketemu." Jawabnya datar.
Sesampainya di rumah nenek, akupun disambut dengan keceriaan. Oleh Kakek Nenek, serta keluarga disana.

Masih lekat di otakku, ketika waktu Shalat telah tiba dan diriku masih molor dalam kamar, diperciknya diriku dengan sedikit air.
"Ayo bangun, Shalat dulu, nanti tidur lagi." lembut sekali tutur katanya. Namun, dia terus mencipratkan air ke mukaku, sampai betul betul beranjak dari tempat tidur. Tak tahulah, mungkinkah itu kebiasaannya saat membangunkan temannya di Pesantren, atau memang caranya untuk menyadarkanku.
Bukan hanya itu, dia selalu menungguku sampai selesai berwudhu.

"Kita Shalat berjamaah." ucapnya. Tak bosan dia bertanya pada orang rumah, siapa yang belum Shalat, diajaknya Shalat berjamaah.
Lagi lagi aku tersenyum, rasa kagum menylinap dalam hati.

= = = = =
Genap dua tahun paman Sobar berumah tangga. Dikaruniai seorang anak kembar, tak membuatnya mengeluh. Rasa syukur dan sabar ia jalani hidup ini dengan nyaman.

Si Cici dan Caca, itulah nama buah hati mereka berdua. Ketika sang Bayi kala itu menangis semua, kebersamaan kental dalam keluarga tersebut. Dia langsung menggendong salah satu anaknya, lalu dia membuat susu dan ditimang-timang layaknya seorang ibu, bahkan tak segan dia ganti celana si Bayi karena mengompol.

Bertambah lagi, ilmu yang kudapat. Dari kepribadian dan tata cara sikapnya dalam menjalani kehidupan.
Tak disangka, istrinya kebobolan. Rejeki tak bisa di tolak, dia tetap bersabar dan selalu bersyukur.

Seperti kembar tiga, anak mereka cukup merepotkan. Ditambah lagi, tak seorang pembantu yang bisa bertahan di rumah itu.
Akupun terheran, dengan kesibukan pekerjaan dan merawat tiga orang anak, tak membuatnya patah semangat.

Keluarga kami, termasuk keluarga yang harmonis. Jadi, nenek dan saudara dekat terkadang ikut membantu mengasuh anak mereka. Walau sebentar.
Kulihat jam, sekitar pukul 03.00 dia baru bisa terlelap dan bangun pukul 04.30. Hanya satu setengah jam, waktu untuknya tidur.
Saking penasaran, aku beranikan untuk bertanya, kenapa tidak pernah aku mendengar keluh kesah terucap.

"Hidup itu untuk Ibadah, bila kita ikhlas menghadapinya. Semuanya akan terasa I N D A H." Jawabnya penuh makna.
= = = = =
Anaknya kini sudah besar, si Kembar bersekolah di SD, dan si Bungsu bersekolah di PAUD.

Inilah yang selalu kukenang. Perjalanan hidup penuh rasa sabar. Dan sikapnya mendidik diriku untuk lebih memahami, arti dari sebuah kehidupan serta menyadarkanku akan kewajiban yang harus dilaksanakan.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Kisah Seorang Paman yang Sederhana (Sebuah Cerpen}

0 komentar:

Poskan Komentar