Dunia Informasi & Inspirasi

Sharing Infomasi Seputar Dunia Informasi & Inspirasi

Cerpen yang Menarik dan Singkat: Cerita Terakhir

Oleh Narudin Pituin - Orang tua suntuk berjanggut, berambut kumal, berjubah lusuh, berongga mata cekung tapi bercelak, berleher hampir sebesar batang lidi itu mulai menggerakan mulutnya yang menjorok ke dalam. Giginya sudah tanggal seluruh. Kulit wajahnya kempot-kempot. Ia dikenal sebagai juru kisah di tempat itu. Tidak pernah tidak datang di malam buta, dan sirna di pagi buta. Suaranya mendesis, kempas-kempis, bagaikan balon ketika ia bercerita kepada siapa pun yang berkenan menyimaknya:
Dulu, ada sepasang kekasih buta. Hidup di hutan rimba berdua. Mereka saling mencinta. Seia sekata. Sesuka seduka. Sehidup semati. Nah, untuk hal sehidup semati ini, akan kukisahkan kepadamu…


Ke mana-mana mereka pergi berdua-duaan selalu. Makan, minum, mencuci baju, tidur, dan bahkan mandi selamanya berdua. Dua ekor merpati berkepala hitam! Mereka makan ubi-ubian, termasuk ubi belanda, ubi perancis, dan ubi rambat, berbagai macam daun, serta pelbagai macam buah. Mereka minum air sungai atau mata air—termasuk air hujan dari langit. Tidak selalu mereka minum air seni mereka sebagai obat. Mereka mencuci baju dekil, satu-satunya yang melekat di badan. Tidak kerap mereka mengenakan baju terbuat dari dedaunan lebar dan tebal. Mereka tidur di gubuk bambu tua ala kadarnya. Hampir-hampir angin limbubu merobohkannya. Mereka mandi di sungai yang airnya mengalir jernih dari hulu ke hilir atau dari hilir ke hulu.

“Pujaanku, aku ingin mencari buah manalagi di bukit itu,” Kekasih Perempuan menunjuk ke arah entah berentah.
“Oh, ya, pohon buah manalagi itu di dekat batu besar kembar. Tapi, waspadalah, di sana ada ular raksasa berbisa,” pesan Kekasih Lelaki penuh cinta.
Selang beberapa saat—bahkan kata-kata mereka pun belum musnah di atas bumi—hujan deras membadai, mengobrak-abrik gubuk bambu tua itu. Tangan mereka bergenggaman erat-erat. Akan tetapi, sayang, tangan angin lebih bengis, tangan badai lebih sadis. Genggaman mereka terlepas. Mereka terpisah oleh kekuasaan alam. Kekuatan hutan rimba. Kekuatan yang tak dapat ditolak atau diundurkan barang sesaat. Mereka sekarat dalam keterpisahan laknat! Si Kekasih Perempuan tersaruk-saruk sampai ke bukit di mana pohon buah manalagi berada; Si Kekasih Lelaki terpental ke bibir jurang. Gaung dahsyat terdengar di dasarnya yang berbatu lancip.
Selang beberapa waktu, mendadak hujan badai reda. Alam melenakan kesadaran hakiki seperti semula. Seperti tak ada yang terjadi seakan-akan tak ada penciptaan sama sekali…

Tak terasa hari telah mengubah mukanya menjadi berseri-seri. Kicauan burung seperti biasa—dan betapa membosankan kicauan demi kicauan burung berlangsung—tunggal bunyi. Tak ada ragamnya.
Bukankah jumlah burung (yang tengah berkicau di suatu ranting pohon) kurang dari seribu ekor?

Kekasih Perempuan, di bukit ini, meraba-raba, menyusuri jalan setapak, mencari-cari batu besar kembar di mana pohon buah manalagi tumbuh. Meskipun begitu, batinnya masih menangisi ketiadaan Kekasih Lelaki-nya di sisinya.
Kekasih Lelaki yang tengah ia pikirkan sedang berjuang di bibir jurang licin. Tangan-tangannya bergapaian di akar yang berjela-jela, di alang-alang yang merunduk-menunjuk. Sayang, pijakan kaki terlampau lecat… tubuhnya terpelanting ke dasar jurang berbatu runcing. Ketika tubuhnya melayang-layang, sebelum tiba di dasar jurang, ia sempat mengingat saat-saat bercinta pertama kali dengan Kekasih Perempuan-nya—sepasang kekasih buta yang masih perawan dan perjaka. Setelah itu, ia merasa hilang dalam ingatan dirinya. Tubuhnya terasa mengecil, kecil sekali, sebesar paku, lalu sebesar jarum, lalu sebagai titik, lalu sebagai pecahan-pecahan titik tanpa titik…

Kekasih Perempuan malah tersenyum bahagia! Karena ia menemukan dua batu besar kembar itu, dan terus meraba-raba, mencari batang pohon buah manalagi. Begitu berhasil menjumpai pohon buah manalagi itu, ia merasa lebih bahagia, lebih bahagia daripada memiliki dunia beserta isinya. Ia lupa kepada Kekasih Lelaki-nya. Ia lebih terpincut makan buah manalagi.

“Sebesar itukah cintamu kepadaku?” kata sebentuk suara yang diadakan.
Kekasih Perempuan memeluk pohon buah manalagi. Kemudian, tangannya menggapai-gapai, mencoba menjangkau buah-buah manalagi yang menggelantung rendah, hampir-hampir menyentuh tanah. Ia baru sadar—tak ayal lagi—pohon buah manalagi itu ternyata terbalik. Akar-akarnya merebak, membubung tinggi ke atas, tapi hidup subur, makmur, tak kurang sesuatu apa. Malah, pohonnya berbuah lebat…

Sebelum Kekasih Perempuan meraih, menggigit, dan menikmati manis lagi sedapnya buah manalagi, seekor harimau mendekat—bukan seekor ular raksasa berbisa yang disebut oleh Kekasih Lelaki tempo hari. Harimau itu semakin dekat ke tubuh molek Kekasih Perempuan. Urat-urat kemudaan bekerja secara teratur di dalam tubuhnya. Jantung tak bosan-bosan memompa darah-darah segarnya. Bayang-bayang masa depan masih tersusup dalam dirinya. Ruh-ruh masih tersimpan baik di ruang-ruang jiwa atau jiwa-jiwa masih tersimpan baik di ruang-ruang ruh?

Jari-jari Kekasih Perempuan berhasil memegang buah manalagi, sedangkan harimau itu benar-benar berhasil melompat ke keabadian…
Sayang, orang tua lontok berjanggut, berambut kumal, berjubah lusuh, berongga mata cekung tapi bercelak, berleher hampir sebesar batang lidi itu berhenti berkisah. Ia berpamitan kepada siapa pun yang mendengarnya. Kali ini, ia pulang sebelum pagi buta. Tak pernah kembali lagi.
Seperti janggut pulang ke dagu.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Cerpen yang Menarik dan Singkat: Cerita Terakhir

0 komentar:

Poskan Komentar