Dunia Informasi & Inspirasi

Sharing Infomasi Seputar Dunia Informasi & Inspirasi

Cerpen yang Menarik dan Bagus: Kisah Ratu Angsa

Oleh Dede Yogi Darsita - Suara bahak tertawa meledek terdengar di ujung bangku penonton belakang. Sang penari yang berdiri di area gelap panggung terhentak. Musik saxophone yang menggambarkan kepedihan mulai dimainkan. Kemudian iringan piano, biola dan alat musik lain mengikuti, sangat menyayat. Perlahan, lampu menyorot Sang Ratu. Berdiri dengan tangan kanan terangkat melengkung ke atas, kedua ujung kaki menjinjit teratur. Mata yang sedari tadi terpejam mulai dibuka. Lambaian tangan dan jari-jari mulai bergerak, sepatu berwarna putih samar merah muda mulai berpindah ke kiri, ke kanan, ke depan juga ke belakang. Bahu Sang Ratu tak luput mengikuti gerakan tangan. Indah.


Bibir merah senyum terpancar. Musik pembuka ‘Swan Lake’ menggambarkan kesedihan seorang gadis perawan, yang terjebak dalam hutan terlarang. Tidak ada jalan keluar. Buntu. Semakin lama musik semakin perlahan. Biola yang digesek berubah menjadi dipetik. Sang Ratu menunduk, kedua tangan masih dilambaikan, kini mata bahagia berubah menjadi bingung, linglung dan khawatir.

Tak lama, perlahan sosok pria bertubuh besar berjalan dibelakangnya. Musik pembuka itu kembali berubah, mengancang akan terjadi sesuatu. Inilah bagian dimana Rothbart mengucapkan mantra. Tangan pria tersebut mengarahkan tangan Sang Ratu ke kiri, kemudian ke kanan lalu memutarkan tubuhnya.

Degup jantung dari yang bergaun putih terdengar, bahkan matanya mulai berkaca-kaca. Ya, kini tariannya berubah. Ia dikendalikan oleh Pria berkostum burung. Seperti tak dapat berbuat apa-apa. Musik kencang nan berisik mulai meramaikan arena panggung gelap, tersorot satu lampu yang mengarah pada penari.

Gerakan semakin menguasai panggung. Dibanting tubuhnya ke kiri, dibanting tubuhnya ke kanan. Di arahkan telapak tangan menampar diri, memukul, seolah Sang Ratu menyiksa diri. Padahal campur tangan Rothbart mengendalikan. Gerakan menyiksa itu begitu rapi, cepat,kasar namun tetap teratur mengikuti irama musik yang mengiringi.
.
Suara bahak kembali terdengar. Lambaian tangan Sang Ratu yang menari mulai mengarah pada penonton, wajah yang kebingungan itu menampakan sebuah isyarat, “lepaskan aku! Tolong aku! Selamatkan aku!”

Namun semua itu tak dihiraukan. Ini hanya sebuah pertunjukan Royal Ballet. Rothbart semakin kuat mencengkeram. Musik pun semakin berisik indah dengan kasarnya gerakan tari. Kini tubuh Sang Ratu digerakkan Philluette olehnya, atau gerakan memutar cepat dengan satu jinjit kaki. Semakin cepat, semakin cepat, semakin kasar, semakin emosional, nafas semakin tak beraturan dan hentakan musik mengagetkan menjadi klimaks. Rothbart menghilang, bulu angsa berhamburan di arena. Kini Sang Ratu mengepakan kedua tangannya serupa sayap. Air mata berlinang, bibir merahnya berantakan, babak belur menghiasi wajah manisnya. Kaki yang masih menjinjit menari perlahan, menjauh. Suara kepakan dari tangan menyimbolkan suasana hati. Penderitaan, rasa sakit, kecewa, bersalah, kepedihan dan sedih menjadi ruh musik kala itu.

Odette, gadis perawan yang terjebak dalam tubuh angsa mulai pergi menjauh, menuju cahaya lampu yang terang. Gaun putih mendadak suci. Tidak bernoda namun merah darah menjadi ornamen.

Dari kejauhan, seorang wanita tua menatap sepasang sepatu ballet milik Sang Ratu di atas panggung. Kini anaknya pergi jauh. Tewas disiksa sang Ayah. “Pejantan tidak menari!”
Namun Ummi berkata lain, “Tidak harus menjadi perempuan untuk menjadi Sang Ratu. Bahkan Sang Ratu adil negara pun adalah seorang lelaki.”

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Cerpen yang Menarik dan Bagus: Kisah Ratu Angsa

0 komentar:

Poskan Komentar