Dunia Informasi & Inspirasi

Sharing Infomasi Seputar Dunia Informasi & Inspirasi

Tips Menulis: Menulislah yang Bagus di Tempat yang Baik

Oleh Muhamad Firman Yusup - Tulisan adalah prasasti paling abadi bagi penulisnya. Menulis adalah cara paling elegan untuk menyampaikan perasaan dan gagasan. Namun, apakah siswa atau bahkan guru menyukai tulisan dan atau menulis? Sebenarnya, pertanyaan ini dapat langsung terjawab dengan lahirnya fenomena menulis status di media sosial.
Media sosial menjadi alat candu bagi sebagian besar orang. Tua-muda, pria-wanita, guru-siswa, dan lainnya. Pada dinding akun pribadi seseorang, kita sering melihat status menyenangkan, menyedihkan, mengharukan, mengecewakan, dll.
Misalnya, “Duh cape nich baru pulang ngantor”, “Nyalon dulu ach”, “Duh, ko cowo ga ngerti-ngerti sich”. “Jangan main api kalau ga mau kebakar”, “Jadi orang mah, ga sombong juga udah istimewa”, “Otw stadion”, dll. Lalu, apa tujuannya?
Disadari atau tidak, fenomena ini semakin terasa nyata di dunia maya.


Terlepas dari rasa suka atau tidak suka, ternyata menulis sudah menjadi suatu kebiasaan, bahkan kebutuhan bagi sebagian orang. Hal ini sebenarnya dapat menjadi sinyal baik bagi dunia kepenulisan. Sebagian besar orang sudah mau mengekspresikan perasaan dan gagasan melalui tulisan. Namun, jika tidak diarahkan dengan ilmu, tulisan atau status ini akan terasa hambar, bahkan terkesan alay. Kemudian, apa yang harus diperbaiki dari kebiasaan menulis status di media sosial ini?

Mayoritas penulis status di media sosial ialah remaja. Hal ini tidaklah mengherankan apabila dilihat dari faktor usia dan lingkungan dengan berbagai hal yang mereka alami, mulai dari keluarga, persahabatan, sekolah, bahkan percintaan. Kondisi seperti ini sebenarnya merupakan peluang bagi guru untuk membantu siswa dalam menyalurkan hobinya membuat tulisan yang berkualitas, berkelas, dan tentunya bermanfaat. Lalu, bagaimana caranya?

Pertama, tentukan kategori tulisan. Apakah yang akan kita tulis merupakan buah dari perasaan atau gagasan? Jika yang akan ditulis berdasarkan dari berkecamuknya perasaan, bingkailah tulisan tersebut ke dalam bentuk sastra, baik kata mutiara, puisi, pantun, cerpen, dongeng, atau bahkan novel. Kemudian gunakan gaya bahasa atau majas agar tulisan tersebut unik, menarik, dan mendidik. Misalnya tulisan untuk seorang yang sedang patah hati, “Duh ditolak lagi deh gue” atau “Terserahlah, memang aku yang selalu salah”, bisa diganti dengan kalimat puitis, “Kusinggahi beberapa musim di matamu, namun gugur tetap saja memusim di mataku”. Lalu, misalnya untuk seorang yang sedang malas menulis, “Males nugas nich gue” atau “Lagi ngumpulin nyawa buat ngetik”, bisa menulis dengan sentuhan sastra, “Lentik ini tak remaja lagi, lirik ini tak meraja lagi”, dll. Itulah contoh seni dalam menulis.

Kemudian, jika yang akan ditulis berdasarkan gagasan, kemaslah tulisan tersebut ke dalam bentuk esai, opini, laporan penelitian, dll. Kemudian sertakan sumber kutipan atau teori yang lain sebagai pendukung tulisan. Misalnya gagasan mengenai penggunaan kata “telepon” di dalam KBBI yang terkesan keliru. Jangan hanya menulis status, “Telepon atau telefon" sich yang bener? Pusing pala bebi”.

Alangkah lebih baiknya jika kita menganalisis dan membuat laporan mengenai kasus bahasa tersebut, “Seperti yang kita ketahui bahwa ‘telepon’ dan ‘mikrofon’ adalah dua benda yang sama-sama menimbulkan bunyi. Jika kita uraikan secara morfologis, kata mikrofon berasal dari kata mikro yang berarti kecil, tipis, sempit, dan fon yang berarti bunyi ujar yang dihasilkan oleh alat-alat ucap, bunyi bahasa (KBBI Daring). Maka secara logika dapat diartikan bahwa mikrofon adalah alat berukuran kecil dan praktis yang dapat menyalurkan bunyi untuk penyiaran atau perekaman bunyi, seperti pidato, musik, alat pengeras suara. Sedangkan untuk kata telepon, berasal dari kata tele yang berarti jauh, jarak jauh, dan pon berarti satuan ukuran berat 500 gram (KBBI Daring). Maka, jika mengacu pada makna leksikal, kata pon dalam kata telepon kurang tepat. Seharusnya, penulisan yang benar dan konsisten adalah telefon, yang bila diartikan adalah alat untuk menyampaikan bunyi dari jarak jauh”. Begitulah contoh penggubahan tulisan yang mudarat menjadi bermanfaat dan tidak terkesan hanya mencari simpati dan empati orang lain.

Kedua, tentukan media tulis yang elegan dan terpercaya. Secara pribadi, semua orang dapat menulis apa pun di media sosial. Namun, tidak semua orang dapat menulis dalam lomba karya tulis di media ini atau menulis di rubrik media cetak. Dalam kondisi seperti ini, siswa dengan inisiatif guru wajib menempatkan tulisan di tempat yang lebih berwibawa. Salah satunya dengan menulis di buletin sekolah. Buletin sekolah berfungsi sebagai tempat siswa memperoleh pengalaman pendidikan di dunia kepenulisan.

Di sekolah penulis, dibentuk juga kepengurusan guru dan siswa untuk mengelola buletin yang bernama Aksara Basa (Aktualisasi Rasa dalam Bahasa). Pengurus belajar mencari, membuat, menghimpun, dan mendata karya serta berita yang kemudian disalurkan kepada perseorangan atau pun lembaga lain. Selain sebagai bentuk pembuktian kualitas sekolah, minat dan bakat siswa terhadap kepenulisan pun tersalurkan. Siswa dapat mengekspresikan gagasan, perasaan, dan imajinasi melalui tulisan.

Kebanggan tersendiri bagi siswa jika karyanya dimuat di buletin sekolah. Hal ini akan menjadi motivasi tersendiri umtuk menulis di media lainnya dengan skala yang lebih luas. Tidak lagi menulis status yang tidak penting di media sosial. Maka dari itu, guru harus lebih dulu menulis, tentunya dengan menggunakan bahasa yang terdidik dan mendidik. Buktikan bahwa cara berpikir dan penyampaian guru lebih baik dari pada yang lainnya. Mari menulis, mari berpikir kritis.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Tips Menulis: Menulislah yang Bagus di Tempat yang Baik

0 komentar:

Poskan Komentar