Dunia Informasi & Inspirasi

Sharing Infomasi Seputar Dunia Informasi & Inspirasi

Kisah Sebelum Tidur: Dongeng Menjelang Purnama

Oleh Isnaeni Nur Hidayah | "Kalian mau mendengar dongeng, Nak?" Pak Tua mengelus kepala kami yang tertutup beanie dan kain paris warna-warni satu persatu.
.
Malam ini purnama sempurna di bulan dua belas. Kami duduk berjajar di kayu besar dekat perapian. Beberapa yang lain dari kami duduk melingkar di atas lantai. Dua puluh, jumlah keseluruhan dari kami.
.
"Dongeng yang akan aku ceritakan adalah tentang seorang lelaki bodoh dan cintanya."
.
Tentu saja kami tahu dongeng itu. Setiap tahun, dongeng itu akan diulang dan kami dipaksa untuk mendengarkan.
.
Mulanya Pak Tua berlaku baik, dia akan menghidupkan tungku perapian. Memastikan kami merasa hangat dengan memakaikan kami topi-topi beanie dan kain-kain paris di kepala. Setelah perapian siap serta yakin kami tidak kedinginan karena embusan udara beku purnama akhir tahun, Pak Tua baru mulai bercerita. 


.
"Dahulu, ada lelaki muda bodoh yang hidup sebatang kara setelah ditinggal mati ayah dan ibunya." Seperti biasanya, Pak Tua akan menyesap teh pekatnya sebelum melanjutkan.
.
"Dia adalah seorang pencari kayu yang tinggal di pinggir hutan. Setiap pagi dia pergi ke pasar untuk menukarkan kayu yang diperoleh kemarin dengan makanan dan kebutuhan lainnya. Begitu seterusnya. Dilakukannya pekerjaan itu dengan penuh tanggung jawab."
.
Saat kalimat demi kalimat meluncur deras dari bibir keriputnya, gigil mulai melingkupi tubuh kami. Bisa dibayangkan bagaimana kami setelahnya. Dipaksa menyelam dan mengobrak-abrik kotak kenangan, dengan memutar potongan-potongan kejadian masa lalu yang kami saksikan.
.
Ya, kami telah menemani Pak Tua sepanjang usia. Dari semenjak dia belum dilahirkan hingga sekarang, delapan puluh musim dingin berganti.
.
"Pada suatu hari, saat dua puluh tiga musim dingin berlalu, dia pergi ke kota. Seperti biasa, menukar kayu dengan beberapa lembar pakaian. Tak sengaja, dia bertemu dengan kawan lama, Gepetto Si Pembuat boneka kayu." Pak Tua menghela nafas berat dan terbatuk. Kami tahu apa yang tengah terjadi, tetapi seperti biasa, kami tidak bergerak. Sudah beberapa tahun ini Pak Tua selalu mengeluh dadanya sakit. Pernah terbatuk darah dan berobat ke tabib. Nafasnya pun akan tersengal setiap terbatuk.
.
"Besar di kehidupan hutan yang keras, membuat lelaki itu bisa melihat apa yang tak bisa dilihat kebanyakan orang. Termasuk sosok perempuan cantik bersayap biru yang selalu mengikuti Gepetto yang tua. Ada sesuatu yang dimiliki perempuan itu yang langsung membuat darah mudanya bergolak." Pak Tua keras kepala itu terus saja melanjutkan. Sementara kengerian mulai merayap di diri kami.
.
Mendengar kisah yang sama setiap tahun dan pernah menjadi saksi kejadian itu, membuat kami bisa menebak kelanjutan dongeng itu. Bagian yang paling membahagiakan tetapi bagi kami adalah hal paling menegangkan.
.
"Awalnya dia mengira itu hanyalah hasrat sesaat, tetapi ternyata ... Sejak pertemuan yang diatur takdir kala itu, perempuan cantik yang kemudian dia ketahui sebagai Peri Biru-sebangsa peri yang suka membantu manusia-seakan telah mengambil alih hidupnya. Pikirannya hanya terfokus kepada perempuan itu. Cinta." Berhenti.
.
Jeda yang lama. Pak Tua akan menerawang dengan senyum tersungging.
.
Satu detik. Dua detik. Sepuluh. Tiga puluh. Seratus delapan puluh detik kemudian, bagian yang menyeramkan itu tiba. Senyum tiba-tiba menghilang. Roman wajah Pak Tua berubah menjadi marah.
.
"Cinta. Demi hal bodoh itu dia rela melakukan apapun. Dan tidak sadar, bahwa ada hukum tidak tertulis yang tidak memperbolehkan seorang peri bersatu dengan manusia."
.
Jika berpikir bagian yang paling menyeramkan adalah saat Pak Tua marah, itu salah. Memang saat Pak Tua marah terlihat menakutkan, tetapi tidak lebih menakutkan daripada tangan keriput itu terulur. Meraih salah satu dari kami dan melemparkannya ke perapian.
.
Entah, siapa yang akan berakhir dilalap api malam ini. Sudah lebih dari lima puluh dari kami yang menghilang sejak hari itu. Kami dahulu berjumlah seratus. Beberapa orang yang berkunjung, terkadang membawa salah satu dari kami. Dan sisanya tetap bersama Pak Tua di sini.
.
"Semesta berkonspirasi, Peri Biru dihukumi mati karena jatuh cinta pada manusia. Dia menyongsong eksekusi tanpa ada kesedihan. Tetapi tidak dengan Si Lelaki. Kematian kekasihnya membuat dia semakin mengasing. Setiap hari dia mengurung diri di rumahnya bersama dengan manekin-manekin kayu warisan orang tuanya. Takdir memang tidak adil!"
.
Oh tidak! Jangan aku. Jangan lagi.
.
Panik menguasai saat tangan keriput itu mencengkeram kepalaku. Sakit.
.
Dengan sekuat tenaga, dia melempar aku yang hanya diam tak bergerak-tak bisa bergerak-ke arah perapian. Kulihat lidah-lidah api menari sebelum dengan lincah mengulum tubuhku dan menjadikannya abu. Menyusul kawan-kawanku yang telah terlebih dahulu berada di sana. []

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Kisah Sebelum Tidur: Dongeng Menjelang Purnama

0 komentar:

Poskan Komentar