Dunia Informasi & Inspirasi

Sharing Infomasi Seputar Dunia Informasi & Inspirasi

Kisah Romantis Cerpen: Kembalinya Sang Mantan

Oleh Arien Nadia Setiawan | Mataku masih berusaha menahan kantuk saat kentongan kampung milik Pak Gepeto berbunyi nyaring. Malam itu entah ada apa. Riuh para warga Toon, berduyun-duyun begitu gaduh. Aku yang memang selalu diliputi tanya dan rasa penasaran, akhirnya melangkah pelan meski enggan. Dengan bermodal cahaya seadanya, kuikuti asal muasal di mana tempat mereka berkumpul.
Betapa terkagetnya aku. Ketika mendapati bahwa sosok yang menjadi tontonan warga adalah seseorang yang pernah mengisi hidupku dulu, sang mantan

"Sebentar, sebentar. Ada apa ini?" ucapku menerobos kumpulan warga yang berkerumun. Aku tak tega melihat orang yang betapa masih aku cintai diperlakukan seperti itu.

"Dia maling!" teriak Spiderman yang berhasil menangkapnya.
"Maling bagaimana? Aku kenal dengan orang ini. Tidak mungkin dia mencuri."
"Lihat saja itu buktinya!" Spiderman menunjuk beberapa celana pendek wanita tepat di samping dia terduduk. Aku memperhatikannya dengan seksama. Wajah itu, wajah yang selalu mengisi kehampaan hati yang merindu. Masa iya melakukan hal yang tidak baik seperti ini? Tapi sontak aku semakin terkaget setelah mendapati gambar 'Hello Kitty' pada bagian belakang celana pendek yang diambilnya. Kuraih, kuperhatikan lebih seksama lagi.



"Ini, kan punyaku!" aku setengah berteriak kemudian menyembunyikannya di balik punggung. Kontan saja, Batman yang sedang bertugas patroli, Superman yang kebetulan lewat, dan Cat Woman yang sedang kelaparan menunggu tukang nasi goreng lewat, memandang ke arahku sembari menahan tawa.
"Kenapa kamu lakukan ini?" tanyaku masih dengan rasa tak percaya pada sosok laki-laki itu. Rasanya rindu sekali. Sudah hampir empat tahun kami tidak bertemu, namun malah kembali dipertemukan dengan keadaan seperti ini.

"Aku tak percaya kamu bisa senekat ini!"
"Ma-maafkan aku, Fiona. A-aku ..."
"Aku apa? Kali ini kamu benar-benar membuatku kecewa. Meskipun memang kamu seseorang yang sudah lama pergi dari hati, namun aku masih menyimpan dalam-dalam rasa ini." Aku memalingkan wajah membuang pandangan. Menerawang pada beberapa tahun silam saat kami bertemu di sebuah hutan pinus penuh belukar.

"Tapi, Fiona ... tolong dengarkan aku dulu. Aku minta maaf ..."
"Sudahlah, sudah tidak ada yang perlu lagi di jelaskan!" Aku memalingkan muka lalu menjauh hendak berlalu. Namun Tujuh Kurcaci dan Putri Salju, menahan dengan menggenggam tanganku.
"Dengarkanlah dulu, Fiona, apa yang ingin dia jelaskan. Tidak ada salahnya memberikan sebuah kesempatan," ujarnya bijak.
"Tapi aku sudah terlanjur kecewa, Put! Sudah dulu waktu pacaran dia menduakan aku, sekarang ditambah lagi dia tega melakukan hal tidak terpuji seperti ini. Di Kampung Toon pula, di kampung kita."

"Tenang, Fiona. Semua pasti ada alasan. Ada hal yang tidak pernah kita ketahui kebenarannya. Maka dari itu, dengarkanlah penjelasannya dulu."
Aku kembali menoleh pada sosok pria tampan yang hidung mancungnya membuat iri si Pinokio. Dia menganggukan kepalanya perlahan. Seolah meng-iya-kan apa yang putri salju ucapkan.

"Baiklah ... aku akan mendengarkan. Apa alasanmu?"
Raut bahagia terpancar dari wajah pucatnya. Para warga pun antusias mendengarkan dengan seksama, tak terkecuali Lee Min Ho yang saat itu tengah berkunjung ke Kampung Toon. Aku kemudian beralih duduk di hadapannya, dengan berbekal cemilan kacang polong kesukaan yang tadi sengaja dibawa dari rumah.
"A-aku sebelumnya minta maaf, Fiona. Dulu aku memang telah menduakanmu. Tapi ..., saat itu aku benar-benar khilaf," mulainya dengan sedikit terbata. Tak ada jawaban dari bibirku. Masih memandanginya datar.

"Aku ... aku masih mencintaimu, Fiona ..."
"Uhuuuk ... uhuuuk ... apa maksudmu?" Mulutku tersedak kacang polong saat mendengar ucapannya.
"Semenjak aku memutuskan untuk pergi bersama wanita itu, lama kelamaan aku melihat bagaimana sifat buruknya. Dia sering sekali mengompol di celana, atau buang air di mana-mana. Yang lebih parahnya lagi, dia menduakan aku dengan pergi bersama si Arjuna. Hiks ... hiks ..." Pria di hadapanku sesegukan penuh kesedihan.

"Udah, cewek kayak dia kirim ke Krypton aja!" teriak Superman disusul elu-eluan para warga membenarkan.
Pluk! Pluk!
Kontan kacang polong kulemparkan ke arah pipinya yang tirus.
"Aw ... aw! Atit, Cinta ...," nadanya mengaduh manja.
"Suruh siapa membicarakan wanita itu di depanku? Kamu benar-benar tidak menghargai perasaan aku sama sekali, yah!"
"Iya Fiona, maaf. Sebenarnya, ada yang mau aku bicarakan."
"Apa? Sudah aku tunggu sampai lumutan ini dari tadi!"
"Sabar dong, Fiona. Kamu kalau sudah marah malah semakin terpancar aura cantiknya," ucapnya kemudian.
Rayuan klasik memang, namun kata-kata itu sukses meluluhkan hatiku yang berbalut cemburu.

"Cepat! Mau bicara apa?"
"Sebenernya, aku ... a-aku masih sayang sama kamu, Fiona."
Sejenak aku terbelalak lagi. Masih belum percaya dengan apa yang diucapkannya barusan. Apakah serius? Atau hanya ingin mempermainkan perasaanku lagi seperti dulu.
"Maksud kamu?"
"Iya, aku masih sayang sama kamu, Fiona. Aku baru sadar, ternyata tidak ada wanita yang lebih dari kamu. Tidak ada yang lebih jelek, lebih cerewet, juga lebih gendut."
Aku bangkit kemudian menghampiri Spiderman yang berdiri tak jauh dari mantan terindah-ku.
Srluuut ...

Seketika kuraih paksa mengarahkan jaringnya untuk menyumpal mulut laki-laki itu. Dia mendengus sembari berusaha membuang jaring yang menempel di bibir tipisnya.
"Rasain!"
"Maaf, Cintaku." Dia berlutut memohon ampun untuk tidak melakukan hal bodoh seperti itu lagi. Aku mengangguk berusaha memaafkannya lagi, lalu beralih duduk kembali ke tempat semula.
"Terus, kalau kamu masih sayang sama aku, maksud kamu mencuri celana pendekku untuk apa?"
"Hmmm ... itu ... a-aku mau minta bantuan Hermoine untuk memantra-mantrai kamu supaya kembali ke pelukan aku," jelasnya kemudian menunduk penuh pilu.
Seketika haru menjalar dalam hati mendengar apa yang sudah ia lontarkan penuh ketulusan. Sekeras inikah perjuangannya agar membuatku kembali ke sisinya? Bulir bening menetes membasahi pipiku yang tebal.

"Kamu tak perlu seperti ini. Ketika kamu hanya meminta aku untuk kembali pun, aku akan dengan penuh rasa bahagia menggenggam erat tanganmu lagi."
"Benarkah?" tanyanya antusias. Aku mengangguk perlahan. Lalu mata kami beralih saling bertautan berbalut cinta dan kerinduan.
"Aku mencintaimu, Fiona! Putuskanlah Sherk secepatnya lalu kembali padaku. Aku lebih tampan darinya," ujarnya sembari tersenyum lebar.
"Aku sudah putus dengannya dua bulan lalu. Mungkin aku dan Sherk memang tak jodoh. Aku ... aku juga masih sangat mencintaimu, Edward Cullen." Kusunggingkan senyum terindahku pada pemilik wajah pucat itu.
Edward kemudian membenamkan tubuh gempalku ke pelukannya erat. Seketika riuh warga bertepuk tangan mengharu biru menyaksikan cinta kami yang kembali menyatu.

"Woooy, lepas-lepas. Bukan Mukhrim." Teriak Bella Swan yang baru datang mengingatkan.
"Cemburu, nih, ye ...!" Aku berteriak sembari mendelik pada wajah cantik itu penuh senyum puas.

***
Akhirnya, tak lama aku dan Edward memutuskan untuk menikah. Kami hidup bahagia selamanya dengan empat anak laki-laki bertubuh hijau dan dua anak perempuan lainnya bertaring tajam.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Kisah Romantis Cerpen: Kembalinya Sang Mantan

0 komentar:

Poskan Komentar