Dunia Informasi & Inspirasi

Sharing Infomasi Seputar Dunia Informasi & Inspirasi

Kisah Koplak, Lucu & Gokil: Tuan Makan Senjata

Oleh Wulanayutenan | Bau busuk langsung menyeruak, ketika Wiro memasuki bangunan kecil di atas sungai itu.
Sebuah bangunan dari kayu, yang dijadikan kakus oleh keluarga Babah A Tiong, tauke babi yang tinggal di hulu sana.
Kakus itu sengaja dibuat di atas sungai, agar siapa pun yang buang hajat di situ, tak payah menyiram. Sebab semua kotoran akan langsung jatuh dan hanyut bersama derasnya arus air.

Lantainya yang terbuat dari kayu jati, sangat sesuai dengan apa yang sedang di cari Wiro.
Walau beberapa bagian sudah mulai lapuk terkena kotoran, tapi lantai kakus itu masih sangat layak untuk keperluan Wiro.
Akhirnya tanpa memerlukan waktu yang lama, sebilah papan jati berhasil di bawanya pulang.

Kembali Wiro memperhatikan hasil karyanya.
"Sungguh sebuah karya yang sempurna." Pujinya dalam hati.


Papan jati bekas lantai kakus Babah A Tiong, kini  menjelma menjadi sebuah alat yang akan di gunakan untuk memulai usaha bersama Mak Ida.

Sudah beberapa bulan ini, Wiro menjalin asmara dengan Mak Ida. Janda beranak enam yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Mak Ida memang tak muda lagi. Usianya lima belas tahun lebih tua dibanding usia Wiro. Tapi sisa-sisa kecantikan masih membekas pada tubuh wanita berdarah Aceh itu. Badannya yang tinggi semampai, ditambah dengan kulitnya yang putih mulus, tentu membuat Mak Ida menjadi incaran para laki-laki iseng.
Hal ini pula yang membuat Mak Ida selalu mendapat cibiran dari tetangga. Mungkin saja emak-emak di kampung itu khawatir kalau suami mereka tergoda untuk ganti susu.

Tapi kehadiran Wiro telah mampu membuat semangat hidupnya yang mulai redup, kini bergairah lagi.
Laki-laki yang dipanggil "pembalap" (singkatan dari pemuda berbadan gelap) oleh para tetangganya itu benar-benar dapat membuat hati Mak Ida berbunga-bunga. Siang malam yang ada dalam ingatannya hanyalah Wiro.

"Mas Wiro.. Tak u uk.." Seperti remaja yang sedang kasmaran, Mak Ida berlenggang lenggok di depan cermin, sambil menirukan sebuah lagu dang dut.

"Warna kulit nomor tiga. Yang penting rasa."
Kata-kata itu yang sering di tanamkannya dalam hati, bila tiba-tiba dia terbayang kulit Wiro yang legam di hiasi panu itu.

***

Alat itu menyerupai bangku kecil, di tengahnya di pasang melintang sebilah besi pipih menyerupai pahat yang berpungsi sebagai pemarut es.

Sore ini merupakan hari pertama Mak Ida dan Wiro memulai usaha berjualan es cendol di ujung gang tempat mereka tinggal. Sebagai orang Jawa, Wiro sangat percaya kalau sore ini merupakan hari baik untuk memulai usahanya.

"Duh Mas Wir, tajam banget parutan ini ya.."
Ucap Mak Ida sambil terus memarut bongkahan es.

"Nih, sebagai penglaris, Mas Wiro duluan deh yang nyobain cendolnya. Dijamin mak nyuus.. Ini kan cendol Aceh.."
Dengan genitnya Mak Ida menyodorkan segelas cendol untuk Wiro.

"Eh. Ah. Hmm.. Ma maaf.. Tapi hari ini saya lagi puasa."
Tergagap Wiro memberi alasan, untuk menolak meminum cendol itu. Walau sesungguhnya dia berbohong.

"Nah, kebetulan kalau begitu. Tuh, sudah Adzan Maghrib. Silakan di minum Mas. Sekalian buat berbuka."
 
Wiro sudah kehabisan alasan. Dia tak bisa lagi menolak untuk tidak meminum cendol itu.
Tapi hatinya belum bisa berkompromi. Terlebih bila dia teringat lantai kakus Babah A Tiong yang belepotan kotoran manusia itu.

"Ayo lah Mas. Nanti perutnya sakit lho.."
Mak Ida kembali memaksa Wiro.

Akhirnya dengan memejamkan mata, di minumnya juga cendol itu.
Tapi baru beberapa teguk, mendadak perut Wiro seperti di aduk.
Kepalanya berkunang-kunang.
Samar-samar di lihatnya wajah Mak Ida berubah menjadi mirip dengan wajah Babah A Tiong.  

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Kisah Koplak, Lucu & Gokil: Tuan Makan Senjata

0 komentar:

Poskan Komentar