Dunia Informasi & Inspirasi

Sharing Infomasi Seputar Dunia Informasi & Inspirasi

Contoh Cerpen Pendek Singkat Terbaik: MOMENTUM

Oleh Humaria Aziza | Aku mendengar suara asing yang melengkapi kebisingan, semakin tajam dan nyata. Ini bukanlah ilusi, pemikiran murni yang hadir mendahului kesadaranku selalu mengirimkan sinyal tanda bahaya tersamar. Terlambat kusadari bahwa cahaya yang membuncah itu bukanlah pertanda baik. Kupejamkan kedua mata mencoba memahami sensasi dari kesendirian dan kehancuran jiwaku secara perlahan. Aku tahu bahwa aku baru saja menyerah pada ambisi tiada batas milikku. Lebih buruk dari itu, aku juga telah membunuh mimpi-mimpi muda mereka.

Arus ketakutan menyerbu laksana luapan ombak yang murka, menghantam tubuhku yang menyimpan tekad untuk bertahan. Semua ini menjadi di luar kendali, atau mungkin seharusnya memang demikian. Aku hanyalah sebuah prototype dengan program yang tidak dirancang mengikuti keinginanku. Era baru telah dimulai dan tidak akan ada yang tahu bahwa aku menjadi bagian darinya. Namun itu tidaklah penting.


Pada akhirnya rasa kehilangan mengikat emosi lebih kuat dibandingkan euforia kemenangan yang dikumandangkan oleh mereka. Swastika, apakah simbol itu lebih hidup daripada apa yang terlihat ? Ia memiliki jiwa dan daya hipnotis yang mengikat persekutuan menjadi masa depan yang harus diperjuangkan. Aku menyaksikan lambaian patriotiknya, sangat epik dan menggetarkan jiwa. Ini bukan sebuah kebanggaan, melainkan kehancuran jiwa. Aku merasa hampa.

“Kau akan melindungi kami dari bahaya apapun. Sie haben versprochen.”
Suara itu datang dari tempat yang sangat jauh namun mengikuti setiap derap langkahku. Wajah lembut dan tatapannya yang menggantungkan harapan terbesar pada janjiku. Ia mendekap Yanick, adiknya yang berusia tidak lebih dari tiga tahun dan menderita polio.

Aku ingin sekali mengatakan bahwa situasi sangat tidak menguntungkan diriku. Terlalu banyak kehilangan yang kualami menjadi steroid yang membunuh rasa takut dan kemanusiaanku. Adrenaline yang berpicu setiap menit mematikan sensibilitasku pada hal-hal lain di luar dari misi ini. Namun aku memilih cara praktis untuk tidak memperumit situasi dengan meyakinkan bahwa aku akan menepati janjiku dengan nyawa sebagai taruhannya.

Gadis naif yang mempercayai orang yang salah dan aku tak tahu harus mengasihaninya atau sebaliknya. Darah Schutztaffel lebih kental dari para Yahudi, itulah yang membedakan kami. Kesetiaan kami berpusat pada satu arah, yaitu kejayaan Fuhrer. Tidak ada tempat untuk yang lainnya. Kami terlahir untuk mengabdi pada satu kekuatan mutlak.

Sebenarnya ia dan Yanick hanyalah sebagian kecil dari mereka yang tidak beruntung. Kematian mereka pun tidak akan meninggalkan kisah memilukan atau sesuatu yang pantas dikenang. Tidak ada elemen yang menggetarkan hati. Mereka tidak berbeda dari segerombol kutu yang berlari ketakutan di bawah kaki kami. Operasi Malam dan Kabut selalu menjadi teror yang meninggalkan efek traumatis bagi mereka yang selamat. Pada akhirnya hanya tersisa dua golongan dari mereka, yaitu mereka yang mati dengan ideologi mereka dan mereka yang hidup seperti zombie. Itulah yang kami inginkan. Kehancuran secara perlahan-lahan sebelum kemudian mereka mulai saling memakan bangkai saudara-saudaranya.

Melepaskan sebuah janji terasa menjadi lebih sulit daripada mengikatnya. Aku merasa seperti malaikat yang jatuh. Aku melindunginya, meraih kepercayaannya, dan kemudian menyerahkannya seperti hewan yang siap disembelih. Bukan mengenai dirinya yang membuatku merasakan hatiku terbakar, melainkan pada jiwa suci yang kurenggut secara paksa. Hal terburuk apa yang menjadi kesalahan tak termaafkan Yanick selain dari takdir menempatkannya terlahir sebagai seorang Yahudi ? Protokol itu jelas dari kekuasaan yang lebih tinggi, bahwa tidak ada wanita yang pantas dibunuh. Anak-anak diseleksi secara genetis dan yang tereliminasi akan mendapatkan tempatnya tersendiri bersama para pesakitan. Tentu saja di sinilah letak kesalahannya. Yanick mengidap polio. Dan gadis itu berpikir ia akan dapat melumpuhkan infanteri SS-Waffen sebagai seorang pria. Sebuah kesalahan fatal.

“Er ist nich tot! Ia tidak mati. Ia tidak terlahir untuk mati dengan cara semudah itu.”
Aku tidak tahu apakah kalimat itu keluar dari mulutku atau hanya datang dari pikiranku, alam bawah sadarku. Aku harus menemukannya, walaupun aku tak yakin bahwa aku tidak akan menyerah pada kemarahanku. Namun semua tampak sama dalam pandanganku, sementara suara-suara gaib dalam pikiranku terus mendesakku melakukan hal yang bertentangan dengan apa yang dirasakan oleh hatiku. Aku adalah seorang pria, dan pria mengikuti protokol dari pikirannya, bukan spekulasi dari perasaannya. Ia mungkin tidak sebodoh yang terlihat. Mungkin ia menemukan cara untuk lolos dari serangan ini. Ia akan kembali untuk membunuhku di suatu malam yang gelap. Kami menggenggam takdir kami sendiri dan meletakkan takdir mereka di ujung jari kami. Sedikit saja kesalahan akan menjadi manuver yang menggesernya ke posisi berlawanan.

Logikaku mengungkapkan kebenaran dari kecurigaanku. Aku melihat di antara kabut sosok yang menyongsong diriku. Aku berlari mengejarnya, dan ia bergerak lebih cepat seperti seekor rusa yang berlari. Tanpa rasa takut. Ia akan berlari sampai akhir dan siap untuk mati. Ia berlari memasuki sebuah lorong yang gelap. Rute ini terasa sangat akrab dan aku nyaris berseru padanya betapa ia tidak lebih baik dari seekor tikus yang memasuki rumah kucing. Ini adalah daerah kekuasaanku. Aku dapat keluar masuk dengan mudah. Dan aku yakin ia tak tahu mengenai jalan buntu yang menantinya di sana.

Namun ekstase yang kurasakan seketika berubah menjadi kebekuan. Aku mengenali tempat ini tanpa aku dapat mengetahui nama mereka yang berada sangat dekat denganku. Wajah mereka tampak sama di mataku. Aku mencoba menyentakkan delusi yang mengelabui pandanganku, namun tidak ada yang berubah. Mata mereka membesar seperti manusia yang menemukan sepotong daging untuk pertama kalinya. Secara intuitif aku mengeluarkan Luger milikku, namun sebelum pelurunya berhasil kulepaskan aku merasa tanganku terbakar.

Tidak hanya tanganku, melainkan seluruh tubuhku. Pori-pori dari kelenjar keringatku menjerit, mendesakku untuk melepaskan diri dari temperatur yang tak lazim ini. Aku bersama para pesakitan dan mereka yang kueliminasi ke dalam krematorium raksasa. Bagaimana mungkin aku secara tiba-tiba berada di tempat ini ? Aku masih mengenakan seragam kebanggaanku dan mengapa tidak ada yang menghentikanku ?

Jawaban mengerikan datang lebih cepat dari yang kuperkirakan. Aku tidak terlihat. Mereka tidak melihatku. Dan itu artinya apapun yang kulakukan untuk terbebas dari sini akan menjadi sia-sia. Karena aku sangat mengetahui cara kerja mesin ini. Hanya perlu menghitung mundur dari angka sepuluh.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Contoh Cerpen Pendek Singkat Terbaik: MOMENTUM

0 komentar:

Poskan Komentar