Dunia Informasi & Inspirasi

Sharing Infomasi Seputar Dunia Informasi & Inspirasi

Cerpen Tentang Guru — Sebuah Tamparan

Oleh Ismail Kamil | Dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku, plus celana panjang abu-abu, kami berangkat dengan kostum yang salah. Aku, Ansor, dan Inal, mencetak sejarah onar yang akhirnya kukenang, sampai paragraf ini kupenggal dengan titik.

Entah sebab apa, naik ke atap bus semacam candu yang ganjil. Walau bus melompong tak ada penumpang, tetap saja kami naiki atapnya. Di masa itu, pacuan adrenalin seolah pertanda hidup kami berjalan normal, waras adanya.

Bus sekolah bermerek Sri Bilah tekan gas hingga mukaku terasa kebas disikat angin. Sekali waktu kudengar Ansor bernyanyi lantang. Suaranya timbul tenggelam. Meski begitu, dapat kuraba lirik lagu yang keluar dari mulut pemuda berdarah batak itu.


Dengarlah duhai kekasih
Hidup tak selamanya indah
Renungkan wahai sahabat
Hadapilah semua yang kan terjadi
Terjadi...

Orang-orang menyemut di sana. Sebuah lapangan yang memang dipakai untuk merayakan hal besar. Kami urung masuki lokasi. Selain bingung mencari tempat, kami juga tak mau bersimbah keringat menonton band lokal yang itu-itu saja.

"Kita tunggu di sini saja, Miska!" Ansor menahan tubuhku yang hampir melebur ke lapangan, bersama penonton lain.

"Kamu yakin mereka bakal lewat sini?" tanya Inal, ragu.

Ansor hanya mengangguk.

Sebelumnya memang, Ansor mencuri dengar dari panitia bahwa idola kami tidak masuk dari pintu gerbang utama lapangan. Mereka akan diamankan lewat sebuah kios kecil yang menembus ke ruang briefing panitia.

Benar saja.

Samar kulihat kelompok orang menyerbu. Rahasia sudah bocor. Kami bukan orang pertama yang tahu jalan alternatif yang akan dilewati sang idola.

Tak sempat kami mengejar, keadaan langsung sesak. Ansor dengan tubuhnya yang jangkung dan berotot, mudah saja menyirngkirkan tubuh-tubuh penghalang di depannya. Nahas, seorang gadis terjerembab, jatuh. Terinjak-injak. Sadar karena ulahnya, Ansor menjerit-jerit agar orang menepi, demi nyawa manusia yang diinjak seperti sampah.

"Hei...tengok pakek mata! Ada orang di bawah sini. Minggir!" teriak Ansor.

Gadis itu lunglai. Inal menarik lenganku, kami mencari bantuan.

Sebab mengurus orang pingsan yang runyam, kami gagal menonton konser. Waktu, kami habiskan di Puskesmas. Sisa-sisa waktu, menjelang malam, baru kami kembali ke lokasi. Idola kami itu, hanya bisa dilihat dari atas pagar, dari jarak yang amat sangat jauh. Di tanganku, sebuah poster terlunta tanpa tanda tangan. Duhai, idolaku, group band PADI, mengapa kalian rela menjadi orang-orang yang sulit?! Begitulah batinku, merintih.

Kami berbaris, tertunduk. Di depan sana, seorang lelaki berkulit legam bertelekan pinggang, menatap kami satu per satu.

"Ansor, maju!" panggil lelaki dengan nama lengkap Drs. Abdi Negara, M, Pd itu.

Ansor melangkah, ragu. Sejurus kemudian, secepat ugal-ugalan bus Sri Bilah, sebuah tamparan mendarat di pipi Ansor.

Prrrraakkkkk

Ansor menutup mukanya. Perih.

"Siapa lagi?" tanya Pak Abdi.

Aku maju. Disusul inal, dan semua teman sekelas yang berkelamin pria. Padahal, hanya bertiga yang membuat masalah. Entah kegilaan apa yang menggerakkan teman-temanku menyerahkan muka mereka untuk mencicipi pedasnya tangan kiri Pak Abdi.

"Bagus! Bagus! Setia kawan? Oke, mari mendekat. Biar kalian tahu, apa arti pergaulan yang sebenarnya!"

Tak tanggung. Guru killer itu mampu menampar dua wajah sekaligus. Sebuah skill yang perlu dilatih intensif, tampaknya.

Kami semua memegang pipi, meringis. Seorang teman yang dikenal baik budi dan tutur bahasanya: Zulfikar, harus rela menyumbangkan setetes darah dari hidungnya. Ya, wajahnya yang inocent harusnya tidak menerima tamparan Pak Abdi Negara.

Kami kembali berbaris. Selaku wakil kepala sekolah yang menangani makhluk-makhluk kepala batu seperti kami, beliau tak bosan memberi arahan.

"Dengarkan ini, ananda kami!" Ditatapnya sekeliling. "di dunia ini, hanya ada dua jenis kesenangan. Pertama, kesenangan yang berguna. Kalian gembira mengerjakan sesuatu, dan sesuatu itu mendatangkan hasil yang baik. Tidak harus uang. Bisa berupa faedah. Kedua, kesenangan yang sia-sia. Inilah yang harusnya kalian jauhi. Karena kesenangan yang sia-sia, tidak bisa memberi faedah. Lebih baik saya yang menampar kalian. Dari pada kalian ditampar oleh penyesalan!"

Berikutnya kami berjalan, antri. Bergantian mencium tangan beliau. Ya, tangan yang kami cium itulah yang melukai wajah kami. Hanya Allah yang tahu, mengapa tak ada secuilpun dendam dalam hati kami. Mengapa rasa hormat kami terhadap beliau, tetap terjunjung di atas kepala.

Wajah-wajah duka berkumpul. Mengangkat kedua tangan, di atas kuburan.

Air mataku tak henti menetes. Sungguh! Aku rela menerima tamparan demi tamparan dari beliau. Agar diriku selalu sadar, bahwa di dunia ini, seorang guru adalah orang tua kedua. Agar aku sadar, mendidik tak sama dengan mendongeng. Mendidik, berarti mengguyur seorang murid dengan kenyataan, bahwa hidup bukan sekadar peristiwa kelakar saja.

(Mengenang, seorang guru terbaik dalam hidupku. Semoga Allah memberinya tempat yang baik)

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Cerpen Tentang Guru — Sebuah Tamparan

0 komentar:

Poskan Komentar