Dunia Informasi & Inspirasi

Sharing Infomasi Seputar Dunia Informasi & Inspirasi

Berkhidmat Pada guru, Berkah dalam Ilmu (Renungan Hati untuk Guru)

Oleh Latiefah Sari | Ketika duduk dibangku sekolah dasar, saya amat tidak pandai matematika. Matematika adalah pelajaran yang paling tersusah bagi saya kala itu. Sebagaimana pun keras saya belajar, saya tetap kesulitan memecahkan soal, terutama soal cerita. Bahkan, ibu saya dengan sabar mengajari saya hingga larut malam, walau terkadang ibu jadi sedikit kurang sabar, karena saya diajari berulang kali tetap saja susah mengerti.
Saya ingat, saya pernah sampai menangis larut malam karena tidak bisa menyelesaikan soal matematika.

Hingga ketika saya masuk sekolah menengah pertama, dengan DANUM sekolah dasar yang nilai matematika saya terendah dibanding dua pelajaran lain. Saya hanya mendapat nilai 6,95. Itupun saya sangat bersyukur karena masih diijinkan Alloh jadi peringkat DANUM nomor 2 di sekolah dasar, dikarenakan 2 pelajaran saya yang lain, mengkatrol  hasil DANUM saya.


Saya masuk SMP di salah satu sekolah negeri di glenmore banyuwangi. Disana, saya dipertemukan Alloh oleh seorang guru matematika yang tegas, pak Silaturrohman namanya, saya dan murid lainnya memanggil beliau dengan sebutan, pak Sil.
Pak Sil terkenal tegas dalam mengajar, ketika beliau mulai menjelaskan, tidak ada murid yang boleh berpaling dari beliau. Harus fokus.
Setiap kali mengajar, beliau membawa kontak motor disampingnya, siapa yang tidak fokus saat ditanya dan diterangkan maka akan dicubit dengan kontak itu sambil dipelintir, dan siapa yang ketika tes , usai pelajaran diterangkan mendapat nilai dibawah 70 maka akan terkena juga cubitan kontak itu.

Bagaimana rasanya?
Wow... sakit sekali, kulit bekas cubitan hampir mengelupas, padahal kita dicubit tidak langsung ke kulit tapi terlindung oleh baju seragam.

Dan saya?
Ya, saya 2x terkena cubitan kontak itu, karena nilai tes matematika saya di bawah 70. Dan saya pun, terkena pukulan gagang sapu di kepala, karena saya salah menjawab ketika ditanya "min dikali min", dikarenakan saya tidak fokus dan belum mempelajarinya, padahal pak Sil sudah menyuruh untuk belajar di hari sebelumnya.

Apakah saya marah dengan semua peristiwa itu?
Oh... tidak, sama sekali tidak, menggerutu pun tidak, saya hanya malu. Malu kenapa saya tidak bisa menjawab dan mendapat tes diatas 70.
Lantas apa yang saya lakukan setelah itu? Tentu saja saya belajar lebih giat lagi, jika ada yang tidak dimengerti maka saya langsung bertanya, tak ada rasa benci, dendam dan marah sedikitpun pada pak Sil. Saya tetap memberi hormat pada beliau.

Hingga lambat laun saya mengerti, matematika menjadi begitu mudah, nilai 90 bahkan 100, bukan lagi impian. Bahkan yang tidak disangka adalah DANUM matematika SMP saya mendapat nilai 9, 65, Allohu akbar, saya hanya menjawab satu soal yang tidak tepat. Saya mengerjakan ujian akhir itu sendiri, sesuai yang saya mampu. Dan Alloh telah memberikan hadiah terindah kala itu.

Apa hikmahnya kawan?
Kita tahu belakangan ini, kasus guru yang dilaporkan murid semakin marak saja. Bahkan guru dilarang memarahi berlebihan, apalagi memukul. Guru, tidak akan melakukan sebuah tindakan, jika murid tak berulah. (Dalam tanda kutip disini, guru yang sewajarnya, lain halnya dengan guru yang berkasus--mencabuli siswa misalnya--beda lagi ceritanya).
Guru saat ini serba salah, murid tak beradab, ditegur, gurunya dilaporkan.
Sebagai murid, kita harus memegang adab kepada guru, jika ingin ilmu kita berkah.
Kita jaga sikap kita kepada guru, karena kepintaran saja, tidak cukup mengantarkan kita mencapai sukses dunia akhirat. Karena kita butuh keberkahan. Ilmu yang berkah, akan melekat kuat pada diri kita.
Membawa kita pada kemudahan menggunakan dan menularkannya sehingga bermanfaat pula untuk orang lain.

Ingat, jagalah adab kita, karena guru hanya ingin membuat kita lebih baik dan berilmu. Jika kita sudah baik dan berilmu, tentu, kita pulalah yang akan menuai hasilnya.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Berkhidmat Pada guru, Berkah dalam Ilmu (Renungan Hati untuk Guru)

0 komentar:

Poskan Komentar